Senin, 16 November 2015

Tempat Tinggal

Katakan padaku satu hal! Maukah kau menjamin aku akan bahagia jika memilihmu?

Pernah aku datang ke sebuah tempat. Asing. Tapi aku merasa pernah datang ke sana. Berkali-kali. Samar ingatanku merapal anak-anak tangga putih yang akan mengantarku pada pintu mahoni berdaun dua di ujungnya. Tidak perlu aku mengintip dari lubang kunci untuk tahu rumah macam apa yang ada di hadapanku itu. Wallpaper cream dengan sulur samar, lantai marmer yang entah warnanya putih atau abu-abu, rumah bergaya eropa modern minimalis dengan dua bangunan utama yang terpisah. Walaupun ingatanku tak menggambarkannya dengan jelas, aku tau satu hal. Aku tidak suka tempat itu. Aku tak pernah ingin kembali ke sana.

Sensasi itu aku ingat lagi saat melihat tatapanmu. Perasaan familiar sekaligus asing. Membuatku ragu untuk menyambut tangan yang kau ulurkan dengan senyum tipis. Di bawah lampu sorot 100 watt jalanan depan warung kopi tongkrongan kita, aku memutuskan satu hal. Aku tidak boleh melewati jalan itu. Jalan yang kau tawarkan tanpa banyak berfikir. Ungkapan kebaikan hati yang terlampau murah sampai rasanya tidak mungkin. Karena tanpa kau mengatakan apapun, aku sudah tau. Aku terlalu paham lorong-lorong dalam rumah itu. Terlalu hafal dengan hiasan dinding yang menghiasi tangga ke lantai berikutnya. Sesuatu yang bahkan tidak pernah kau tau. Jika aku memutuskan untuk kembali kesana. Mungkin tidak akan ada lagi kesempatan untukku melarikan diri.


Jumat, 30 Oktober 2015

Avatar

Bayangkan sekarang kamu berdiri di tengah sebuah perang. Pertanyaannya bukan lagi bagaimana harus menang, tapi berubah menjadi bagaimana kau bisa tetap hidup.

Kakiku mungkin sedang menginjak bumi. Tapi bisa saja alam bawah sadarku memvisualkan negeri anta berantah dengan pemandangan menyejukkan. Aku masih bisa membaui padang rumput keemasan yang terbakar matahari. Masih ingat birunya langit dan kencangnya angin yang menerpa wajahku. Jalanan yang tidak rata menuju bukit kecil di sana, aku lewati dengan tergesah-gesah. Aku tidak ingat bagaimana aku bisa tiba di sana. Namun begitu menemukanmu di bawah pohon Oak tua, berdiri mematung tanpa sepatah kata apapun, entah mengapa aku merasa lega.


Di Antara Langit dan Samudra

Ini seperti aku sedang terjun ke lautan lepas, persis di tengah samudra.


Apa sih yang aku ingini sekarang? Bersenang senang menikmati ciptaan Tuhan, atau bunuh diri? Bukannya apa, konstelasi bintang memang bergerak indah di musim panas. Bahkan rasi biduk yang biasanya baru bisa ku nikmati menjelang pukul 9 malam, kini bertengger malu-malu di dekat jalan susu. Aku tidak perluh pergi ke Bosca sekedar untuk merasakan sensasi berenang di luar angkasa. Aku cukup menguatkan hati untuk berani menatap dua bola matamu, dan aku menemukan seluruh dunia di sana.

Indah sekaligus menakutkan. Menyenangkan memang berlari kecil, sambil bermain air di tepi pantai. Tapi bagaimana jika ombak menyeretku ke lautan dalam? Aku tidak takut tenggelam, karena sekarang aku sadar tidak lagi di pinggir pantai berpasir, namun jurang tinggi yang sengaja aku datangi. Tidak ada warna biru laut. Hanya kekosongan tak berujung dari hitamnya air yang memantulkan bintang-bintang.

Tik Tok





Menunggu sudah seperti rima hidup yang sebulan belakangan ini ku lakoni. Aku sampai tidak tau bedanya itu dengan menghirup oksigen. Semua seolah berjalan melambat dan aku sendiri yang berlari maraton. Tanpa sadar kau tertinggal. Jadi ketika aku berhenti, menengok ke belakang sejenak, aku tersadar aku harus menunggu. Melakukan kegiatan yang sebenarnya dengan senang hati akan ku lakukan jika saja tidak ada yang namanya waktu.

Sadarkah kau berapa lama aku harus selalu menunggumu? Gerakanmu seolah adegan slow motion yang memaksaku dua kali lipat lebih sabar menanti akhir. Duduk di bangku yang sama, mengantisipasi bukan hanya penyakit lelet, tapi mungkin juga amnesia tiba-tiba bercongkol di kepalamu. Sekarang, aku tidak hanya menghitung kelopak bunga, tapi juga menghitung rumbai taplak meja, hingga domba-domba yang sekarang mulai melompat-lompat di depan mataku. 

Aku bosan, hei kau koruptor waktu. Terlalu banyak saat yang aku habiskan untuk menyambut kedatanganmu yang monoton. Tidak ada tampilan istimewa dari kemeja biru tua yang kau pakai. Tidak ada lagi sesuatu yang berbeda dari cara berdirimu yang suka menumpuh di kaki kiri. Hanya aku bersyukur goresan senyum di wajahmu tidak ikut terkikis waktu yang terbuang.

Tidak ada kata atau pelukan minta maaf. Tidak perluh. Karena begini lah kita. Dua jarum yang baru bisa benar-benar bertemu setelah 12 jam memutar. Bertemu hanya di dua saat di satu hari yang panjang. 

Selasa, 30 Juli 2013

Menjelajah Mimpi


Mimpi memang luar biasa. Kita bisa menjadi apa saja dalam mimpi kita. Aku bahkan pernah bemimpi jadi bangsawan eropa, pacar artis, petualang, agen rahasia, tribut hunger games, atau pembunuh hantu, hahaha. tapi tentu saja itu bagian mimpi yang aku dapatkan saat tidur. Susah kalau harus bercerita ribuan mimpi yang setiap malam aku jelajahi. jujur saja. aku tidak bisa mengingat 'bunga tidur' itu dengan baik. walaupun aku mendapat banyak hal yang bisa aku pelajari bahkan dalam mimpi.


Sabtu, 24 November 2012

Cinta

Tentu saja ini topik yang jarang aku bahas. Ya memang sebelumnya aku pernah mengepost "kalau saya berbicara cinta", bahkan itu tergolong banyak ketika aku mengepost dua artikel cinta diantara sepuluh. mungkin topik ini memang spesial, dan mungkin bisa menaikkan rating blogku. Tapi kendati seperti itu, sampai sekarangpun, aku tidak pernah bisa memahami 'cinta'. ah ini akan jadi cerita yang panjang!

Rabu, 03 Oktober 2012

Just Stay Here 1



ALL BEGIN  | 1
...Aku...seseorang yang ingin tersenyum di terik matahari pagi seperti yang lainya. Tertawa dan bahagia... kini entah kenapa impian kecil itu terasa terlalu sulit untuk terwujud. Apa yang ku pilih telah membawaku dalam sumur kemalanganku sendiri. Sekeras apapun aku berteriak... sebesar apapun aku berjuang...aku akan tetap terjebak di tempat ini entah sampai kapan...
“Rian meninggal.” Dekkk...
Seluruh tubuhku tiba-tiba melemas. Sedetik yang lalu aku seakan berada dalam Dejavu yang sama sekali tidak ingin aku ulang. Hanya saja nama itu sekarang berbeda. Kali ini nama itu terdengar seperti milik seseorang yang kemarin menatapku dengan senyum dan kegugupan yang konyol. Sekali lagi, itu adalah nama orang yang menyatakan cintanya padaku. Ya, sekali lagi, kabar yang sama dengan alasan yang sama, dan penyebab yang sama, AKU!

Kamis, 14 Juni 2012

Tempat Terang

Aku tidak pernah merasa sebahagia ini memiliki sesuatu. Bersyukur sebesar ini karena berada di suatu tempat. Tapi Tuhan telah memberikan lebih dari sebuah keluarga. Lebih dari sekedar teman. Ini adalah sebuah masa paling istimewa yang membuat aku tau apa itu takdir dan jalan Tuhan. Semuanya berawal dari sesuatu yang kecil. Di sinilah, ketika aku masuk dimasa abu-abu putih...

Aku tidak pernah memilih masuk ke sekolah kejuruan. Sama sekali tidak pernah! Berharapun tidak. Orang tua ku yang menginginkannya. Oh, bahkan aku baru mengatakan 'baiklah aku mau sekolah disana' 2 hari sebelum ujian masuk. Itu aja karena aku dapat mimpi (ceritanya habis sholat istiharoh) sekolah di tempat yang punya gagang tangga hijau (yang ternyata) persis kayak punya sekolah itu. Uh pokoknya benar benar cuma bisa mengekor teman yang memang niat masuk sana. Bahkan aku menyamakan pilihan jurusan. Awalnya sih iya, pilihan pertama akuntansi pilihan kedua multimedia. Kemudian datang seorang ibu yang katanya pengen liat nilaiku, terus beliau bilang 'ehm... bagus. kok multimedianya nomor dua? nggak kebalik tah ini'. Aku cuma senyum, bingung maksudnya apa. Terus nggak lama temen ku yang se smp juga dateng pengen liat nilai, dan komennya hampir mirip sih tapi lebih nusuk! 'loh multimediamu loh kok nomer loro seh ? gak iso melbu akuntansi, gak mungkin melbu multimedia loh'. Nah loh, kalo nggak masuk dua-duanya sekolah swasta dong ? nggak mau... mahal!(padahal loh sekolah ini ternyata sama mahal e >.< ). Dan akhirnya aku ganti Multimedia jadi nomor satu.

Selasa, 13 Maret 2012

Di Tengah Langit yang Gelap

Saat ini aku ingin sedikit bernostalgia masa lalu. hmm... mungkin kalo kalian temen sekelasku masih inget kan dulu ada tugas speaking yang disuruh cerita tentang unforgettable moment ? ya, dan cerita yang aku pilih saat itu memang benar-benar yang tidak dapat terlupakan
ini cerita tentang langit.
ini cerita tentang bintang.
ini cerita tentang kebanggaan...

Saat itu usia ku mungkin masih 9 atau10 tahun, masih SD. aku lupa tanggal berapa tepatnya. yang jelas saat itu tengah bulan Ramadhan, di minggu akhir bulan Ramadhan. Bapakku dulu kerja jadi penjaga tambak punyanya pamanku. Dan kebetulan saat itu lagi mau panen. Aku sama emak emang sering bolak-balik ke sana buat ngunjungi Bapak. Maklum Bapak ku itu dari dulu model kerjaan nya selalu nggak bisa pulang tiap hari ke rumah, jadi mumpung tempat kerjanya di sidoarjo aja ya kami lah yang inisiatif pergi kesana.
Gubuk di tengah tambak itu emang nggak bisa dibilang bagus. Udah hampir roboh, tapi masih kuat kalo dipaksain bertahan 1-2 tahun lagi. di depannya ada 2 pohon waru besar yang menaungi halaman gubuk yang sebenarnya panas bukan main. di sekelilingnya udah tambak yang luas-luas banget. bahkan jarak gubuk satu dengan yang lain mungkin lebih dari 1 km. Aku hobi loh maen di bawa pohon waru. ngambilin bunganya yang berwarna kuning (kalo udah jatuh warnanya oranye) dan dibuat maenan. kalo yang nggak tau, bunganya itu agak mirip tulip (ngarang) tapi mahkotanya lebih lunak, teksturnya kayak bunga sepatu tapi lebih berisi, mirip gitulah cuma warnanya kuning dan nggak bisa ngembang sempurna kayak tulip (nah bingungkan ?).

Senin, 02 Januari 2012

Sindrom Bangsawan


Pernah mbayangin nggak pas kamu bangun tidur tiba-tiba ada yang buka'in tirai dan bilang "selamat pagi nona ?"Atau pas kamu jalan kamu ngerasa memakai gaun yang lebar sampai kamu berjalan jinjit dan menaikkan dagu seolah putri raja ? haha... itu emang imajinasi ku pas kecil. Jujur aja, walau sekarang banyak anak manggil aku preman, tingkah laku nggak karuan, dulu aku juga sempet jadi boneka mainannya kakak-kakak perempuanku. Aku sering loh di bikinin baju gaun-gaun, rok lebar, panjang warna putih, merah, pink... pokoknya mainan banget deh. Dan anehnya aku seneng-seneng aja tuh hehe....
Nah setelah kakak-kakak ku itu nikah dan ikut suami-suaminya, otomatis kebiasaan pake gaun dan rok itu terkikis oleh waktu. Tapi sepertinya kebiasaan masa kecil itu masih berbekas. Tentu aja bukan dengan diem-diem aku pake gaun...pake rok panjang-pajang...Gila apa ?disangkanya aku mau kondangan ?
Tapi entah kenapa kebiasaan itu memicu ku lebih penasaran dengan kaum bangsawan....

Nah...nah... awal kisah pas smp ada temen ku (setelah ini inisialnya U) yang punya hobby beda nih sama aku. Aku yang notabennya seneng komik, nah U ini seneng baca novel (komik juga sih), aku suka dengerin lagu japanese dia western, aku masih nggak tau pengen melancong ke negara apa U udah punya planning ke Inggris, (dan ini yang paling memilukan) aku suka Itachi,           dia ngomongin pangeran Harry mannn......

Senin, 05 Desember 2011

Selamat Ulang Tahun untuk Diri Sendiri

Baru aja aku membaca sebuah post dari kawan ku yang berkata kalau dia nggak pernah dapat ucapan selamat ulang tahun dari orang tua nya. Mungkin itu memang menyakitkan apalagi orang tersebut tau betul bahwa hari itu hari ulang tahunnya. Dan kalau aku sendiri... aku memang tidak pernah mendapat ucapan selamat ulang tahun dari orang tua , karena aku tau sendiri mereka bukan tipe pemberi selamat yang terlalu formil , apalagi mereka juga tidak ingat kapan ulang tahun ku. ah... itu tidak masalah , sama sekali tidak. orang tua ku memang orang tua dari desa yang tidak terbiasa dengan hal-hal seperti itu. mereka sendiri juga tidak ingat kapan hari ulang tahun mereka. lucu memang... tapi aku tidak berhak marah, karena sampai sekarang pun aku masih belum bisa secara terang-terangan mengucapkan selamat ulang tahun untuk orang tua ku dan membawakan mereka kue. hah

dan aku sendiri... aku tidak terlalu menganggap hari ulang tahun ku spesial. ya memang spesial , tapi terkadang tak terlalu spesial. karena tidak sedikit hari ulang tahun ku diwarnai dengan suasana yang nggak enak. dan itu membuat ku terbiasa. Ucapan selamat ulang tahun dari kawan-kawan ku memang tidak pernah terlambat datang. mungkin itu yang membuat ku masih sadar kalau aku memang punya hari yang patut disyukuri karena aku telah diberi kesempatan hidup hingga hari ini oleh Allah SWT.

Kamis, 17 November 2011

Paradox of Sky Light eps.1


...Langit itu jauh...
terlalu jauh untuk ku lihat dari bumi yang kecil...tapi burung yang lebih kecil itu diperbolehkan terbang di sana. Kalau begitu bagaimana aku bisa merasa se egois ini untuk kabur. kenapa aku semunafik ini untuk menghindar... arrgghh....dasar bodoh. kenapa aku harus lari ? apa yang sebenarnya ada di pikiran ku sih...
aku semakin menenggelamkan tubuhku dalam rumput yang tumbuh hijau di belakang istana. Bajuku sudah setengah compang-camping untuk ukuran seorang cendekiawan perpustakaan istana yang seharusnya menjaga penampilan. aku meniup rambut yang terurai di depan wajah ku. Kemudian bangkit dan kembali membuka tiap lembaran buku tua yang khusus ku cari untuk proyek selanjutnya Tuan Gillbert. BLUUUSSS.....